Indahnya Kebersamaan Temanggung

Indahnya Kebersamaan Temanggung



Pada kesempatan ini, penulis kembali akan membagikan petualangan di Temanggung. Mungkin banyak dari kita yang tidak tahu daerah ini atau asing karena namanya yang jarang dibicarakan. Begitu pula dengan penulis, ketika diajak oleh teman2 untuk trip ke Temanggung. Perjalanan kali ini dilakukan awal januari 2019, penulis ikut dgn rombongan PKM (Pengabdian Kepada Masyarakat) yg berjumlah kurang lebih 10 orang.


Baca juga: Mentawai Bumi Sikerei















Perjalanan dimulai dari kota Bandung, rombongan naik bus malam, harga tiketnya 150rb. Berangkat  Bandung jam 6 sore dan sampai ke Temanggung jam 6 pagi, jadi kira2 12 jam perjalananlah, memang menguras waktu dan tenaga sih. Tapi apa boleh buat krn hanya itu satu2nya moda transportasi untuk sampai kesana. Adapun tempat tujuan yang akan kami datangi itu ada di atas gunung, yah namanya juga PKM, kalau ke mall berarti bukan PKM namanya heeeeheee.

Berhubung tempat tujuan kami itu ada di perbatasan antara Temanggung-Magelang, maka  yg kami lalui agak sedikit rumit. Jadi kami harus turun di teminal Secang yg masuk ke wilayah Magelang, lalu meneruskan perjalanan dgn bis kecil ke Temanggung tapi bukan ke kota Temanggungnya. Daripada turun naik kendaraan dan kami repot dgn barang bawaan kami, akhirnya rombongan sepakat untuk sewa mobil. Kami sewa mobil dr terminal Secang ke tempat tujuan kami, kami nego dan dapat harga 200rb, yah lumayan murah lah karna rombongan jumlahnya 10 orang.


Sesampainya ditempat tujuan, kami langsung disambut dgn ramah oleh warga setempat. Karena perjalanan yg sangat melelahkan, akhirnya kami beristirahat sejenak sebelum memulai kegiatan kami















Namun hari pertama kami ada disana, ada orang meninggal, krn yg meninggal adalah anggota jemaat GKJ tempat kegiatan kami, maka kami pun memutuskan untuk melayat, sebagai bentuk turut berduka kami. Ketika kami sampai ditempat duka, kami dibuat terkagum dgn toleransi yg sangat luar biasa baik. Sebab orang2 yg mempersiapkan tenda, menggali kubur, dan mempersiapkan jamuan adalah pihak dari agama Islam. 
















Dan anak dari yg meninggal ini sebagian  beragama agama Islam, kepercayaan, dan Kristen. Tetapi mereka hidup rukun dgn damai tanpa ada saling curiga, bahkan yg meninggal ini acara kedukaannya diadakan di rumah anaknya yg beragama Islam. Kekaguman penulis tidak hanya sampai disitu, ternyata semua orang dari desa tersebut melayat, bukan hanya dari pihak Kristen saja, tapi pihak Islam dan Budha juga, semua masyarakat desa silih berganti berdatangan. Tadinya kami tidak berencana untuk ikut ke tempat pemakamannya, tetapi krn penasaran  dgn apa yg sudah kami lihat, maka kami memutuskan untuk ikut ke tempat pemakaman. Sesampainya ditempat pemakaman kembali kami dibuat terkagum, bagaimana tidak krn ternyata lokasi pemakamannya jadi satu dgn pihak Islam dan Budha serta kepercayaan. Tidak ada pemisah blok/kavling, semuanya campur jadi satu. Padahal baru2 ini publik di Indonesia di buat heboh dgn beberapa peristiwa diberbagai tempat yg tidak mengizinkan jenazah agama dimakamkan jadi satu dgn agama lainnya, bahkan yg lebih miris lagi di Yogyakarata makam orang Kristen harus dipotong nisan bagian atasnya supaya tidak kelihatan salibnya yg mencirikan lambang dari agama Kristen. 

Usai penguburan, akhirnya kami pulang untuk istirahat karena kami sangat lelah, namun rasa lelah kami terbayar dengan kekaguman pada penduduk desa tersebut. Investigasi harus investigasi, ternyata penduduk desa selalu menerapkan sistem toleransi yang luar biasa indah ini. Kapanpun ada duka, mereka akan saling membantu, jika yang mengalami duka itu dari kaum muslimin, maka yang menyediakan tenda, menggali benteng, menyiapkan jamuan makan, berasal dari kristen, dan sebaliknya. Semua warga desa menjunjung tinggi dan menjaga kearifan lokal yang sudah ada sejak zaman nenek moyang ... sungguh unik kearifan lokal guys.

Baca juga: Sumba Surga Tersembunyi di Timur Indonesia Part 2





















Tujuan utama rombongan adalah PKM dalam bidang pertanian dan kepemimpinan serta pelayanan anak. Jadi penulis kebagian dalam hal pertanian, yaitu mengajarkan cara membuat pupuk cair, prebiotik dan pengendalian hama tanaman sayuran. Biasa namanya  hukumnya wajib untuk melakukan PKM minimal 2x dlm setahu heeeeheee. Dalam perjalanan ke tempat tujuan penulis berpikir tidak akan ada sesuatu yang istimewa, pasti seperti halnya kegiatan PKM lainnya, krn penulis melihat selama diperjalanan tempatnya adalah desa seperti pada umumnya. Setelah rombongan sampai ditempat tujuan, pemikiran penulis berubah, krn ternyata tempat yg kami tuju adalah sebuah gereja kristen  (GKJ) itu berdiri megah diatas puncak gunung dan lingkungannya sangat bersih atau dalam bahasa jawanya resik dan apik.


selain itu, rombongan tinggal di sana kurang lebih 3 hari. nah selama 3 hari itu juga, kami memanfaatkan waktu luang yg ada untuk mengexplore keindahan alam Desa Klowok, itu nama desa tempat kami PKM.  Ternyata alam disana masih alami banget guys dan udaranya sangat sejuk dan masih segar krn masih belum terlalu tercemar oleh polusi. Satu lagi kearifan lokal yg penulis kagum dari masyarakat disana adalah mereka benar2 menjaga kebersihan lingkungan. Selama 3 hari kami disana, jarang banget kami temui yg namanya sampah berceceran. Hampir semua tempat yg kami kunjungi tidak ada sampah berserakan, bahan ditempat umum pun sangat jarang dijumpai yg namanya sampah plastik. Setelah kami selesai melakukan PKM selama 3 hari di Temanggung, kesan yg kami dapatkan sangat membekas dihati. Alasannya mereka bisa merawat alam seperti diri mereka sendiri, dan mereka bisa merajut keberagaman dalam perbedaan dgn damai tanpa harus saling merugikan satu dgn yg lainnya.



oke guys, untuk saat ini cukup dulu yah cerita trip to Temanggungnya... see you next my journey




My journey to Banyuwangi





My journey to Banyuwangi



Pada dasarnya penulis adalah orang yang senang dengan yang namanya trip ke tempat-tempat yang indah di negeri ini. Beberapa wilayah di Indonesia sudah pernah penulis datangi, seperti Padang Savana di Sumba, Gunung Papandayan di Garut, Bali, dan beberapa wilayah lainnya yang menarik perhatian penulis, semua itu penulis lakukan tak lain adalah hanya untuk menikmati karya ciptaan Tuhan yang begitu indah bagi negeri ini.


Oke guys pengantarnya cukup sekian dulu aja yah. Sekarang kita langsung masuk ke perjalanan penulis kali ini yaitu trip to Banyuwangi. Awalnya sih ketika ditawarin untuk ikut trip ke Banyuwangi, penulis merasa malas, alasannya karena waktunya kurang pas. Soalnya saat itu di tempat kerja sedang banyak kerjaan banget dan penulis juga sedang menyelesaikan tulisan buat sidang Tesis. Tapi apa boleh buat karena trip ke Banyuwangi ini sudah direncanakan dari jauh hari oleh my lovely, terpaksa aja jalan.
Tips buat kalian yang mau trip ke Banyuwangi adalah, lebih baik kalian ikut dalam tour travel karena kalian bisa mendapatkan fasilitas yang lumayan, plus budgetnya jadi tidak terlalu mahal, apalagi kalau dapat paket promo heeeheee memang sih kelemahannya yaitu waktunya singkat. Tapi buat kalian yang pertama kali ngetrip lebih baik ikut tour travel biar lebih saefty aja sih heeeeheee.
Karena penulis tinggalnya di Cianjur, Jawa Barat, sedangkan Banyuwangi itu ada di Jawa Timur dan tour travelnya ada di Surabaya, maka penulis harus ke Surabaya dulu karena titik kumpul orang-orang yang ikut trip ke Banyuwangi semuanya disana, baru setelah pada kumpul, kami meluncur ke Banyuwangi dengan rombongan.

Ada beberapa destinasy yang ditawarkan oleh tour travel, dan kebetulan saat itu penulis ikut paket perjalanan Taman Nasional Baluran, Pantai Gandrung dan yang terutama adalah pendakian ke Kawah Ijen. Waktu perjalanan darat dari Surabaya – Banyuwangi kurang lebih 8 jam, saat ini rombongan tiba di Banyuwangi kira2 jam 5 pagi, sedangkan dari Surabaya kami pergi jam 10 malam. Lalu kami bersih-bersih diri dulu sebentar di tempat makan dan beristirahat sejenak kurang lebih 2 jam. Tempat pertama yang kami kunjungi saat itu adalah Taman Nasional Baluran, yang terbagi ke dalam dua wilayah Kabupaten yaitu Kabupaten Situbondo dan Banyuwangi.

Taman Nasional Baluran menurut penulis sangat indah, terbentang begitu sangat luas. Yang menjadi daya tarik adalah di Taman Baluran ini, kita bisa melihat Satwa langka yaitu Banteng Jawa yang berkeliaran bebas di alam terbuka, selain itu juga kita bisa menyaksikan hamparan hutan luas yang ditumbuhi pepohonan kering seperti mau mati, tapi disitulah letak eksotiknya Taman Nasional Baluran tersebut, namun anehnya ditengah2 hutan ada daerah yang tumbuhannya hijau semua, setelah itu kembali ditumbuhi pohon2 kering. Kemudian kita juga disajikan dengan pemandangan kera atau monyet2 yang berkeliaran bebas dan dalam jumlah yang sangat banyak. Tips jika ingin ke Taman Nasional Baluran, kalian jangan sekali2 mengeluarkan makanan dan minuman di alam terbuka karena bisa2 kalian dikerumuni oleh monyet2 yang bisa menjadi buas karena berusaha mengambil makanan dan minuman dari tangan kalian. Kalaupun kalian mau makan atau minum harus di dalam mobil dengan kaca yang tertutup rapat, karena waktu kemarin penulis ke sana ada satu rombongan yang kaca mobilnya terbuka, dan mereka makan cemilan, akhirnya si monyet hampir masuk ke dalam mobil dan merebut paksa cemilannya tersebut.

Setelah kurang lebih setengah hari rombongan puas dengan mengambil gambar di Taman Nasional Baluran, akhirnya kami pindah tempat ke Pantai Gandrung, tadinya sih kita mau ke Pantai Warna, tapi berhubung jalannya saat itu sedang dalam perbaikan jadi ditutup untuk sementara waktu. Menurut penulis Pantai Gandrung sangat bagus dengan hamparan ombak yang lumayan besar saat itu, kita juga bisa melihat pulau Bali dari sini dan di Pantai Gandrung pun kita bisa mengabadikan moment denga mengambil foto dengan background ikon patung penari gandrung yang terkenal. Namun satu hal yang sangat disayangkan adalah banyak parar pengunjung, pedang dan lainnya yang tidak memperhatikan kebersihan pantai, sehingga pantai menjadi kotor penuh dengan sampah plastik. Dalam hal ini, mungkin pemerintah daerah harusnya lebih aktif lagi dalam memikirkan mengenai hal ini, karena jika hal ini terus dibiarkan lambat laun wisatawan tidak akan tertarik lagi untuk berkunjung ke pantai tersebut, padahal pantainya bagus.
Setalah puas berfoto di Pantai Gandrung, rombongan pun melanjutkan perjalanan ke kota Banyuwangi dengan tujuan mencari kuliner khas Banyuwangi. Saat itu rombongan dibawa ke tempat makan tradisional khas Banyuwangi, tempatnya sih lumayan kecil tapi yang beli ngantrinya lumayan lama, ternyata makanannya enak dan harganya sangggaaaat murah. Setelah kenyang, kami akhirnya dibawa ke tempat penginapan, untuk beristirahat sejenak sebelum kembali melanjutkan perjalanan ke Kawah Ijen. Oleh pihak tour travel kami diberitahu bahwa perjalanan pendakian ke Kawah Ijen akan dilakukan pukul 2 pagi, jadi rombongan harus siap sekitar jam 12 malam, karena perjalanan dari tempat penginapan ke Kawah Ijen cukup jauh, kurang lebih 1,5 jam.
Tepat pada jam setengah dua pagi kami sudah sampai di tempat parkiran pendakian Kawah Ijen, sebleum rombongan melakukan pendakian, rombongan dibreafing dulu oleh guide yang memandu kami. Satu orang guide memandu kurang lebih 5-7 orang. tips yang harus dilakukan ketika mau melakukan pendakian ke Kawah Ijen adalah siapkan stamina kalian dengan baik caranya harus cukup tidur dan usahakan minum vitamin atau suplement tambahan sebelum mendaki, karena pendakian ke puncak Ijen cukup ekstrim jalannya dan memerlukan waktu kurang lebih 2 jam perjalanan, jadi totalnya PP adalah 4 jam perjalanan.


Tapi tenang aja buat kalian yang tidak kuat berjalan kaki, tatpi tetap bersikeras untuk mendaki, kalian bisa memanfaatkan jasa ojek grobak. Kenapa dibilang begitu, karena kendaran lain memang tidak bisa naik sampai puncak, dan hanya gerobak yang diangkut dan didorong oleh tenaga manusialah yang bisa sampai kesana. Namun, kalau kalian mau memakai jasa ojek ini, kalian harus siap2 merogoh kocek yang cukup mahal, karena kalian harus membayar 800rb rupiah untuk perjalanan PP. tetapi menurut penulis sih hal itu seimbang dengan beratnya pekerjaan yang mereka lakukan, karena kalian bisa bayangkan mereka harus mengangkut penumpang dengan medan kemiringan yang ekstrim selama 4 jam. Biasanya satu ojek terdiri dari 3 orang, 1 penarik dan 2 pendorong, dan biasanya nanti mereka ganti-gantian.

Semua pengorbanan kalian akan tergantikan ketika sudah sampai puncak Ijen. Namun untuk bisa melihat blue fayer yang sangat terkenal itu, pastikan kalian harus sudah sampai di puncak Kawah Ijen sebelum jam setengah lima, alasannya kalau sudah lewat jam tersebut akan muncul mata hari pagi, sehingga blue fayernya tidak akan terlihat lagi.
Saat itu penulis tidak sempat melihat blue fayer, karena ketika sampai di puncak sudah jam setengah lima, sedangkan untuk melihat blue fayer kita harus turun lagi ke kawah dekat danau belerang. Tetapi walaupun begitu penulis sangat menikmati dan puas dengan pemandangan yang ada di Puncak Kawah Ijen yang begitu indah. Hampir sama dengan pemandangan yang ada di Gunung Papandayan, Cuma bedanya di Papandayan ada hamparan taman Edelweis dan Black Forest (Hutan Mati), sedangkan di Kawah Ijen tidak ada.

Setelah puas menikmati pemandangan di puncak Ijen, akhirnya rombongan turun kembali dan kami harus kembali ke Surabaya, kemudian kembali ke tempat masing-masing heeeeeheee.
Oke, untuk kali ini cukup ulasannya mengenai Banyuwangi yang guys. Sebenarnya selain ke tiga tempat yang penulis ceritakan di atas, masih banyak tempat-tempat lain yang indah dan menarik yang ada di Banyuwangi, berhubung waktunya juga terbatas, yah next time lah kembali lagi ke Banyuwangi dan berkunjung ke tempat lainnya… salam traveler





Wisata Keluarga Pantai Pangandaran 2021

Wisata Keluarga Pantai Pangandaran 2021 Kebersamaan yang takkan terulang   Halo semuanya, kali ini penulis akan membahas mengenai perjalanan...